Friday, 2 December 2016

Pengalaman Beli Rumah Melalui KPR Syariah

Sekitar bulan September, aku dan suami menjalani proses pengajuan KPR di salah satu bank syariah. Alhamdulillah, sekarang ini kami sudah mulai masuk masa mencicil.. tapi selama prosesnya, ada beberapa hal yang baru aku tau (terkait dengan profesi freelancer), yang seandainya aku udah tau dari lama dan sudah aku persiapkan, mungkin bisa lebih cepat proses persiapan dokumennya. Berbekal pengalaman ini, aku mau share pengalamanku saat mengajukan KPR. 

Sejak awal menikah, aku dan suami tinggal di Apartemen. Walau sampai saat ini masih lebih nyaman untuk tinggal di Apartemen, tapi harapan dan keinginan untuk punya rumah landed selalu jadi percakapan sebelum tidur. Intinya, ini cita-cita kami lah. Hehe. Awal menikah, aku masih kuliah S2.. jadi, rencana beli rumah tertunda. Selain masih banyak penyesuaian keuangan, tabunganku selama kerja masih aku alokasikan untuk bayar kuliah.. jadi belum kepikiran untuk beli rumah. Masuk tahun kedua pernikahan, tabungan kami juga lebih dialokasikan untuk program hamil. Kalau ada uang lebih, ujung-ujungnya kepakai untuk biaya rumah sakit. Sampai akhirnya sekitar 2,5 tahun menikah, aku dan suami memutuskan untuk mulai menabung biaya DP rumah. Banyak atau sedikit, setiap bulan harus menabung. Aku mulai ubah gaya hidup dengan mengurangi kebiasaan jajan di luar rumah, suami juga mulai berhenti merokok, selain untuk kesehatan.. kebiasaan ini juga membantu kami untuk menabung lebih banyak. Sambil terus berdoa, Alhamdulillah Allah lancarkan rezekinya.


Proses beli rumah (lewat KPR) itu bisa dirangkum jadi begini:
1. Booking Fee
Biaya ini dibayar langsung ke developer untuk booking unit supaya ngga dijual lagi. Jumlah bervariasi, biasanya, developer terima booking fee mulai dari Rp. 5.000.000.

Friday, 4 November 2016

Promil : Doa Supaya Diberi Keturunan

Selama kami menikah dan belum punya anak, Allah SWT menunjukkan rasa sayangnya dengan memberikan banyak perhatian dari orang lain untuk kami. Bukan hanya dari keluarga dan kerabat dekat yang suka mendoakan atau memberikan saran-saran supaya cepat hamil, aku juga sering tiba-tiba dikasih saran dan didoakan oleh orang-orang yang baru aku temui di ruang publik. Salah satu dari mereka, ada yang benar-benar niat memberitahu aku tentang doa yang bisa dipanjatkan supaya cepat punya anak atau cerita-cerita inspiratif supaya tetap ikhtiar untuk memiliki anak. Ada juga yang sama-sama membutuhkan waktu lama sebelum berhasil punya anak. Dari sekian banyak saran yang disampaikan, ada satu cerita yang aku senang mendengarnya sampai-sampai pas pulang, aku cari-cari lagi di internet. Karena, entah kenapa, jadi adem dan tenang aja dengar ceritanya, menunjukkan bahwa anything is possible selama terus berikhtiar. Ini ceritanya:

Thursday, 3 November 2016

Promil : Summary Tahapan Program Hamil

Aku dan suamiku sempat menjalani program hamil di tahun 2014 - 2015 (kira-kira selama satu tahun lebih sedikit), walau belum membuahkan hasil. Nah, selama menjalani program hamil, banyak teman-teman yang bertanya tentang tahapan pemeriksaannya, apa saja yang dilakukan, dan berapa dana yang perlu dipersiapkan. Jadi, aku berencana menuliskan pengalamanku selama menjalani program hamil di sini, semoga berguna ya.

Aku dan suamiku menikah di bulan Desember 2013. Sebelum menikah, kami sudah melakukan premarital check up dan memang menemukan masalah yang ada di kami berdua. Jadi, udah siap. Hehe. Pasca menikah, aku masih melanjutkan studi S2ku. Walau aku sedang kuliah, kami tidak berencana menunda kehamilan, karena sudah tahu hasil dari premarital check up. Di masa-masa ini, kami pun belum melakukan upaya apa-apa selain berdoa karena aku masih kuliah dan suami masih beradaptasi dengan jabatan barunya di kantor. Jadi, kami serahkan semuanya kepada Allah. Dijalani saja dulu masa-masa pernikahannya. Walau begitu, selama masa-masa ini, kami sudah mulai rajin menabung dan membaca-baca artikel seputar program hamil untuk persiapan, juga mengikuti saran banyak kerabat untuk bisa hamil. Kami juga berencana akan melakukan program hamil ke dokter setelah satu tahun mencoba secara alami dan ternyata belum berhasil.

Setelah satu tahun menikah, kami belum juga dikaruniai anak. Kebetulan, Alhamdulillah, aku berhasil menyelesaikan studi di bulan September 2014. Jadi, aku bisa fokus untuk mulai menjalani program hamil di bulan Desember 2014. Karena kondisi ini pula, aku memutuskan untuk bekerja freelance pasca lulus kuliah. Supaya, aku bisa lebih leluasa untuk menjalani program hamil.

PRE - PROMIL

Program hamil kami lakukan di RS. Sam Marie yang terletak di kawasan Pondok Bambu, tepatnya di Jalan Basuki Rachmat. Sebelum memulai, kami cari tahu siapa dokter yang banyak didatangi untuk program kehamilan atau infertilitas. Dari sini, kami menemukan nama Prof. Dr. dr. T.Z. Jacoeb, SpOG-KFER. Aku pun mencari tahu arti dari singkatan gelarnya, apa bedanya SpOG dengan SpOG-KFER. Carinya yang mudah saja, lewat wikipedia dan blog, lalu aku dapat penjelasan ini:

Pemulihan Pasca Operasi Usus Buntu

Post ini adalah lanjutan dari cerita ini dan ini..

Saat dioperasi usus buntu, aku ngga merasa sakit sama sekali. Aku merasa sih, kalau ada pergerakan di area perut, tapi aku ngga merasa sakit. Setelah efek biusnya hilang, baru deh kerasa sakitnya, lebih ke perih sih rasanya. Setelah operasi dan sampai di kamar rawat inap, yang pertama kali aku rasakan adalah, aku laper banget. Aku tanya ke suster, apakah aku boleh makan dan minum, kata susternya boleh. Aku senang. Tapi kalau mual, pelan-pelan jangan langsung makan, minum dulu. Tadinya udah mau pesan makanan, pas ternyata datang suster lain yang gayanya lebih khawatiran daripada suster sebelumnya.. aku tanya lagi, suster saya boleh makan kan ya? Suster yang ini bilang sebaiknya jangan makan dulu sebelum buang angin, tapi boleh minum, aku jadi bingung. Yasudahlah ya, nurut aja.

Setelah aku berhasil buang angin, kebetulan infusku habis, aku minta susternya ganti infus. Sekalian aku curhat ke susternya kalau aku udah bisa buang angin. Tapi, suster yang ini beda lagi, katanya nunggu dokter visit dulu baru boleh makan. Aku lapar banget, Cuma yaudahlah ya dibawa tidur aja. Sampai sekitar habis maghrib, Dini datang menjenguk dan bawa banyak makanan. Kata Dini, sebenarnya aku udah boleh makan karena biusnya spinal. Ngga perlu tunggu buang angin gapapa. Aku langsung happy dan makan banyak. Lucu juga, kalau suster dateng, pura-pura ngga makan. Sampai akhirnya suster santai datang lagi, dan dia nanya, udah makan belum. Jadi aku jawab aja sudah. Dan ternyata gapapa, aku ngga diomelin. Hehe.

Malam harinya, aku ngga bisa tidur. Kebetulan, aku emang ngga pernah nyaman kalau harus tidur di rumah sakit. Pasti kebangun-kebangun. Entah nginep di rumah sakit bagus atau sebaliknya, aku tetap ngga nyaman kalau tidur di rumah sakit. Aku tidur hanya 2 jam, dan di sela-sela ngga tidur, entah kenapa, aku jadi sangat termotivasi untuk pulang. Akhirnya, aku latihan duduk dan miring kanan kiri terus, aku ulang-ulang. Sakitnya aku tahan-tahan. Alhamdulillah, jadi bisa ditahan, walau emang masih sakit. Hehe.

Pengalaman Usus Buntu (Part 2)

Setelah batal operasi mendadak seperti cerita di sini, sepulangnya dari rumah sakit, atas saran Dini, aku memutuskan untuk tes darah dan tes urin rutin di laboratorium terdekat. Setelah menunggu kurang lebih 45 menit, hasil tes darah dan tes urin pun keluar, Alhamdulillah, semuanya baik. Leukosit juga berada di taraf normal, berarti tidak ada infeksi. Aku konsultasikan hasil tes darah ke Dini, menurutnya, mungkin, kondisiku ini kronis. Dini menyarankan untuk ke dokter lain buat mencari 2nd opinion. Setelah itu, aku menghubungi pakdeku yang juga dokter, aku ceritakan pengalamanku, dan pendapatnya sejalan dengan pendapat Dini, pakde juga menambahkan sebaiknya melakukan apendikskogram dulu buat memastikan ini benar-benar usus buntu.

Sesampainya di rumah, aku langsung cari informasi tentang rumah sakit dan BPJS. Awalnya, aku masih ragu, apakah akan pakai BPJS atau tidak. Tetapi setelah menimbang-nimbang banyak hal, akhirnya aku dan suami memutuskan untuk tidak pakai BPJS. Semuanya lebih ke masalah praktis, karena kami punya rencana dalam waktu dekat yang membuat kami ragu apakah kalau pakai BPJS, aku bisa segera ditangani. Mengingat, kalau benar kondisiku apendiksitis kronis, maka operasi-operasi yang lebih urgent lainnya (misalnya jantung, ginjal, dll) mungkin akan didahulukan. Ruang rawat inap pun umumnya mengantri, belum tentu aku bisa langsung dapat ruangan. Apalagi, gejalaku sekarang sedang hilang. Khawatirnya, kami perlu menunggu lebih lama dan nantinya malah bentrok dengan rencana yang sudah kami buat.

Keyakinan untuk "mengalah" tidak pakai BPJS juga semakin bertambah setelah Dini merekomendasikan RSPAD Gatot Subroto Paviliun Kartika. Paviliun Kartika di sini mirip dengan Kencana di RSCM. Jadi, ini swastanya rumah sakit pemerintah. Kalau untuk ruangan, memang jauh lebih bagus di Kencana. Menurut Dini, penanganan di rumah sakit ini bagus, yang mana, lokasinya di Jakarta Selatan. Berbeda dengan BPJS ku yang faskesnya di Jakarta Timur. Walau bisa di urus, tapi berarti, menambah waktu lagi. Akhirnya, kami memantapkan diri untuk siap-siap membayar biaya operasi karena ngga pakai BPJS.

18 Oktober 2016, aku datang ke Paviliun Kartika pukul 09:30,  Alhamdulillah dapat parkir. Sampai di sana, aku daftar administrasi di dekat pintu masuk, kurang lebih menunggu sampai 30 menit sebelum mendaftar, karena hari itu lagi ramai. Saat daftar, adminnya bertanya aku mau ke dokter apa, dan aku jawab dokter bedah umum. Ternyata, di Paviliun Kartika ngga ada dokter bedah umum, adanya dokter sub spesialis. Adminnya pun bertanya apa keluhanku, karena usus buntu, mba admin mendaftarkan aku ke dokter bedah digestif. Kebetulan, yang hari itu praktik adalah dr. Abdul Hamid, SpB K-BD. Saat selesai daftar, paaaaas banget, ternyata dokternya baru masuk ruang operasi. Hahahaha. Jadi, aku diminta menunggu sampai operasi selesai.

Saat bertemu dokter, aku jelaskan keluhan dan pengalamanku. Aku ceritakan juga tentang obat yang sudah dikasih, diagnosis dokter untuk operasi segera, hasil USG, tes darah lengkap, dan tes urin lengkap yang sudah aku lakukan sebelumnya. Setelah itu, dr. Hamid mencoba menekan sisi perut sebelah kanan bawah, beliau bertanya apakah aku merasa kesakitan. Aku jawab iya, tapi bisa aku tahan. Sakitnya hanya kalau ditekan dalam-dalam. dr. Hamid juga bertanya tentang foto USG, tapi sayangnya, hasil USG masih ada di dokter penyakit dalam di rumah sakit sebelumnya. Sebenarnya, sebelum keluar dari ruangan dokter penyakit dalam, aku sudah meminta foto USG, tapi menurut pak dokter, hasilnya mau langsung dikasih ke dokter bedah. Pas ke dokter bedah, ternyata pak dokter juga lihat hasil USGnya baru dari foto yang dikirim dokter penyakit dalam, jadi aku belum bisa bawa pulang fotonya. Harusnya sebelum ke dr. Hamid, aku minta dulu hasil USG nya, tapi karena udah malas sama rumah sakit itu, jadi aku pikir sekalian cek ulang aja gapapa.

Pengalaman Usus Buntu (Part 1)

Halo, 2 minggu terakhir, aku lagi sibuk karena sesuatu yang bernama apendiksitis, atau bahasa gaulnya, usus buntu (harusnya sih radang usus buntu ya). Di sini, aku mau menceritakan pengalamanku, semoga aja bisa bermanfaat buat yang baca ya :)

Karena ceritanya panjang, jadi, aku mau membagi ceritanya menjadi dua bagian. Bagian pertama, aku mau menceritakan pengalaman kurang menyenangkan yang aku alami dalam prosesnya. Dan di bagian kedua, aku mau menjelaskan tentang proses operasinya. Jadi intinya, di bagian ini, isinya akan seputar curhatan emak-emak, hehe. Kalau ngga tahan, bisa baca informasi yang lebih bermanfaat nanti di part 2 yaa (berasa ada yang ngikutin perkembangan blog aja :P)

Selama ini, aku sering mengalami sakit perut yang aku kira disebabkan oleh sakit maag. Jadi, setiap kali sakit perut, aku ngga pernah merasa perlu ke dokter atau melakukan tes penunjang lainnya. Sekitar 2 minggu yang lalu, tepatnya di tanggal 14 Oktober 2016, aku kembali mengalami sakit perut. Sakitnya, mirip seperti rasa sakit sebelum-sebelumnya yang hilang timbul. Aku sebenarnya agak bingung, karena, aku udah jarang terlambat makan. Di tas pun selalu bawa biskuit supaya ngga telat makan. Tapi, hari itu, perutku kembali nyeri. Akhirnya, aku minum obat maag dan Alhamdulillah rasa sakitnya menghilang. Aku pikir udah sembuh.

Hari Minggu, 16 Oktober 2016, mobilitasku cukup padat. Di hari itu, aku perlu pergi ke beberapa tempat untuk hadir di acara pernikahan dan acara keluargaku. Satu hari sebelumnya, aku pun habis begadang karena mencicil pekerjaan. Jadi, kondisi tubuhku emang lagi ngga fit. Setelah acara resepsi pernikahan temanku selesai, aku kembali merasa sakit perut. Kali ini, sakitnya lebih parah dari hari-hari sebelumnya. Tapi karena masih harus nyupir dari Taman Mini ke Cibubur, jadi aku kuat-kuatin aja. Selama perjalanan, aku alihkan rasa sakit melalui ngobrol dan bercanda dengan temanku. Sayangnya, rasa sakit di perut tetap terasa. Saat sampai di rumah, rasa sakitnya pun tidak hilang-hilang. Rasanya itu seperti ditekan benda tumpul dalam-dalam, lalu di sekitar tekanan tersebut, ada mules-mules kalau sedang haid. Akhirnya, aku bawa tidur dengan harapan besok sudah membaik,

Hari Senin, 17 Oktober 2016, bangun tidur.. ternyata masih sakit. Akhirnya aku coba sentuh dan tekan-tekan perut untuk memastikan letak sumber sakit perutku. Ternyata, sakitnya itu terletak di bagian perut sebelah kanan bawah, dekat pusar. Aku tanyakan penyakitku ke Dini, dan dia kasih pertanyaan tambahan seperti mual, muntah, demam, sembelit dll. Hari Sabtu, aku memang sempat demam, tapi ngga pakai pusing dan lemas, jadi aku tetap kerja. Setelah itu, atas saran Dini, dia meminta aku untuk segera cek ke dokter penyakit dalam. Menurutnya, gejalanya mirip dengan usus buntu, tapi perlu dilakukan beberapa tes untuk memastikan itu benar-benar usus buntu. Bukan maag, infeksi saluran kemih, atau sesuatu yang berhubungan dengan organ kewanitaan.

Berdasarkan informasi itu, aku mulai googling tentang usus buntu. Aku cari tahu tentang gejala yang biasanya timbul, tes-tes yang diperlukan, penanganan, dan differential diagnosis yang umumnya muncul bersamaan dengan gejala usus buntu. Berbekal informasi tersebut, akhirnya aku kuat-kuatin buat datang ke salah satu Rumah Sakit swasta di dekat rumah ibuku. Sesampainya di ruangan dokter penyakit dalam, aku jelaskan gejalaku dengan detil. Aku sampaikan juga kalau aku punya maag, supaya dokternya bisa memastikan ini benar-benar usus buntu atau maag. Setelah anamnesis, perutku langsung di USG. Dari hasil USG, aku dijelaskan tentang adanya donut sign di area ususku. Menurut dokter, itu adalah tanda radang usus buntu dan perlu tindakan segera.

Mendengar diagnosis dokter, aku cukup kaget. Karena, walau sudah dikasih tau Dini kalau ini mungkin usus buntu.. tapi aku masih berharap ini bukan usus buntu. Dari sana, aku langsung dijadwalkan untuk bertemu dengan dokter bedah umum di sore harinya. Sementara itu, aku dikasih obat Scompamin dan Rantin.

Monday, 3 October 2016

Housewife Notes : Ukuran Kasur

Di masa-masa awal menikah, aku senang banget belanja sprei, hehe. Menurutku, kamar tidur itu ruangan yang paling penting di dalam rumah. Jadi, sebisa mungkin, aku pingin kasur dan spreiku itu nyaman kalau dipakai tidur. Awal-awal belanja, aku belum terlalu tau ukuran-ukuran kasur yang umum dijual di pasaran itu berapa. Aku pun sempat salah paham tentang istilah double dengan queen atau single dengan extra single, yang mana yang lebih besar? Atau yang mana yang pas dengan ukuran kasurku? 

Sewaktu akhirnya store IKEA buka di Indonesia, aku sempat tergoda banget untuk beli sprei dan kasur di sana. Sayangnya, ukuran kasur yang aku suka di sana ternyata 150x200cm, berbeda dengan ukuran tempat tidur Queen yang umumnya di jual di pasaran (160x200cm). Berbekal pengalaman itu, aku mau share catatanku tentang ukuran-ukuran kasur, siapa tau bermanfaat buat yang lagi pingin beli tempat tidur, kasur, atau sprei.

Ukuran kasur yang umum di jual di Indonesia:
1. Single Size
Ukuran : 90x200 cm
Istilah : Single
Number Size : No. 4
Fit for : 1 orang

Thursday, 18 August 2016

Kulineran : Sarapan Enak di Cibubur

Selama tinggal di Cibubur, Fresh Market di kawasan Kota Wisata menjadi salah satu tempat belanja favoritku, hehe. Karena bener-bener one stop shopping. Apa aja ada, ada apa aja. Tempat ini juga jadi tempat favorit suamiku yang seneng jajan. Fresh Market itu buka dari pagi (jam 6an udah rame) sampai sekitar jam 3an untuk 'pasar'nya. Kalau malam, di sana jadi tempat kumpulnya banyak pedagang kaki lima yang jual macem-macem makanan. Mulai dari jualan steak, ramyun, steamboat, sate padang, nasi uduk sampai nasi kucing jualan juga di sana, macem-macem deh. Nah, kali ini, aku mau bahas tentang dua tempat sarapan favoritku di Fresh Market. Karena judulnya sarapan, jadi dua food stall ini hanya jualan di pagi hari.. ini dia tempat sarapan kesukaanku:

1. 'Lekker' Mie Pangsit Ayam Medan
Warung makan ini buka jam 08.00 pagi dan menjual mie ayam khas kota Medan. Buat muslim, jangan takut, makanan yang di jual di sini halal kok. Lokasinya ada di blok FMK-2/2, kalau masuk dari arah Pintu Barat, belokan pertama langsung belok kiri, tokonya ada di sebelah kiri.. ngga jauh dari pintu masuk. Mie ayam yang di jual di sini itu rasanya manis-gurih, dengan mie yang teksturnya lembut, kenyal, dan berbentuk kecil hampir tipis. Yang aku suka di sini adalah campuran minyak+bawang putih goreng yang diaduk di dalam mie. Lalu, pangsitnya juga home made dan ada acar cabai rawit yang kalau dicampur ke dalam kuah rasanya segar banget. Ditambah dengan tauge dan potongan telur rebus, rasanya jadi lebih enyaak lagi. hehe. Ini penampilan makanannya:
Mie Ayam.

Monday, 8 August 2016

Kulineran : Honey Comb Kota Wisata

Hi there, ada restoran baru nih di daerah Kota Wisata, Cibubur. Lokasinya ada di Jl. Raya Kota Wisata dekat ABC Kids Elementary School, Toyota Kota Wisata, di sebelah tempat cuci mobil. Dari luar, desain interiornya menarik, beda sendiri diantara bangunan-bangunan yang ada di sekitarnya. Jadi seharusnya sih gampang nyarinya. Ini penampakannya dari luar:
Honey Comb

Monday, 30 May 2016

Excited :)

Yeay, today is the end of May, it means Ramadhan is near :)
Can't wait for family (and friends) time during Ramadhan, special foods, Tarawih, and every Ramadhan related events. Semoga dikasih kesempatan untuk Ramadhan tahun ini.

Regards,
Dina.

Sunday, 3 April 2016

It Just..

Apa sih yang bisa dibanggakan dari materi dan title yang kita punya? Semua itu bukannya akan hilang?

Aku kepikiran tentang beberapa pengalaman orang-orang di sekitarku. Banyak dari mereka yang mengeluhkan kompetisi yang terjadi di antara keluarga dan lingkungannya (kayak kompetisi ngga terang-terangan tapi sebenernya sih terang-terangan, *nah.. bingung ngga tuh sama bahasanya? :p*). Lebih tepatnya, kompetisi tentang apa yang sudah mereka miliki di usia sekarang (yea, this old tale again).

Sebut saja pengalaman si A, dia berprofesi sama seperti aku.. she is a freelancer. Beberapa tahun, bulan, dan minggu yang lalu, dia cerita kalau dia berpikiran untuk kerja tetap (pembahasan yang bukan hanya terjadi satu atau dua kali antara aku dengan A).

Saat aku tanya kenapa, jawabannya simply karena dia jengah ditanya terus sama keluarga besarnya tentang tempat ia bekerja. Perusahaannya apa? Posisinya apa? Bahkan sadly, ada yang komentar kalau dia S2 tapi pengangguran (maklum, beda generasi yang komentar.. mikirnya yang sukses itu yang berangkat pagi pulang malem doang).

Thursday, 3 March 2016

Housewife Notes : Pengalaman Pertama Pakai Go Clean

Beberapa hari ini aku lagi sangat ngga sempat untuk bersih-bersih, selain ada kerjaan, entah kenapa pas saatnya libur, badanku rasanya capeek banget dan lebih milih untuk gogoleran di kamar (gogoleran itu apa ya definisinya? gitu deh :p).

Kemarin penyewa apartemenku udah move out karena punya anak dan perlu rumah yang lebih besar. Karena itu, tugas rumah tanggaku sekarang jadi double. Abis ngecek apartemen kemarin, alhamdulillahnya ngga ada yang rusak parah.. hanya ada pintu balkon yang kuncinya rusak dan situasi ruangan yang kotor plus berdebu, mungkin karena ngga ditinggali. Niatnya sih dateng pagi-pagi mau ngurus semuanya.. tapi ya kok di sana panas banget rasanya, lalu mata perih banget karena abis begadang. Belum lagi harus ngabisin waktu buat antri bikin laporan kunci pintu rusak di customer service. Alhasil, aku putuskan untuk pakai go-clean.

Ini pertama kalinya aku pakai go-clean. Ibaratnya, aku mau percobaan dulu. Kebetulan apartemen ini kosong, ngga ada barangnya.. jadi aman dan aku bisa lihat kerja mereka cepat atau ngga. Pas pesan di aplikasi, ditulis kalau waktu yang dibutuhkan sekitar 2 jam. Menurutku itu sebenarnya kelamaan, karena kalau aku bersih2 apartemen yang aku tinggali sebenarnya ngga sampai 2 jam.. apalagi kalau hanya nyapu, ngepel, ngelap kaca, nyikat kamar mandi.. itu aja udah full barang-barang. Tapi yasudahlah ya, lagi promo juga.. jadi aku tetep pesan.