Saturday, 11 July 2020

Back to Blog

Setelah sekian lama ngga bisa akses website dengan nyaman karena jaringan yang super slow di daerah urang, akhirnya ada momen yang membuat gw bisa mampir ke Jambi dan nulis blog lagii, senangnyaa.

Kalau dipikir-pikir, sekarang ternyata udah berbulan-bulan ya gw ngga bisa pulang ke Jakarta. Rencana awalnya sekitar Maret 2020 akan lama di Jakarta buat ngurus banyak perintilan kerjaan dan rumah tangga, tapi akhirnya ngga bisa karena COVID-19 outbreak.. yasudah.

Selama masa PSBB di Palembang berlangsung, warga Bayung Alhamdulillah bisa dibilang ikutan aware sama protokol kesehatan. Di banyak toko disediakan tempat cuci tangan, kasir di mini market mostly ada pembatas plastik dan banyak warga yang patuh pakai masker. Sayangnya, setelah masa PSBB berakhir, di sini juga ikutan jadi lebih santuy. Social distancing sepertinya udah ngga sepatuh dulu, kalau antri gw perhatikan antar pengunjung toko udah ngga jaga jarak lagi. Yah, untungnya Bayung Lencir bukan zona merah ya. Semoga tetap aman dan ngga terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Aamiin.

Nah, berhubung gw udah lama banget ngga nulis blog, jadi di tulisan kali ini rencananya mau nulis cerita apa aja sesuka hati. Random aja gitu pingin cerita macem-macem yang lagi terlintas di pikiran, sekalian up date kegiatan di sini. Jadi siap-siap ya bakal ngalor ngidul, udah kangen soalnya. 

1. Apa yang gw lakukan selama stay di sini?

Hmm, berhubung akses internet di sini kecepatannya ngga secanggih di Jakarta, jadi kalau main internet bisanya dari hp aja. Setiap pakai laptop entah kenapa lemot nian. Mau download atau upload juga bisanya lewat hp, tapi kalau ukuran filenya besar dikit langsung lama. Kalau pakai hp terus juga kuota jadi cepat habis. So, mau ngga mau ya screen time.. cari kegiatan di luar main hp buat mengisi waktu luang di sini.

Hal yang gw lakuin mostly nyoba berbagai macam resep. Dua resep yang sempet getool banget gw coba itu cakwe dan mie ayam. Ternyata cakwe susah nian buatnyaa bagi daku. Percobaan ketiga kayaknya baru berhasil, itupun bikinnya cakwe mini belum coba lagi bikin cakwe ukuran normal. Sedangkan mie ayam itu yang bikin penasaran rasa ayam semurnya. Resep yang gw dapat itu resep mie ayam Jawa jadinya lebih ke manis, padahal pinginnya bikin yang kayak mie ayam di Jambi gitu tapi belum bisa. Nanti lah dicoba lagi. Contoh mie ayam di Jambi itu kayak gini:

Monday, 6 January 2020

Wisata Kuliner di Jambi

Pulau Sumatera terkenal akan cita rasa makanannya yang sedap, begitu pula di Kota Jambi. Bagi teman-teman yang sedang atau akan berlibur ke Jambi, berikut ada beberapa restoran yang dapat dijadikan referensi untuk wisata kuliner :

1. KEDAI MENTARI 333
Terdapat cukup banyak kedai sarapan di Kota Jambi. Salah satu warung makanan kegemaranku dan suami adalah Kedai Mentari 333 yang terletak di daerah Jelutung. Meski tergolong baru, perkembangan kedai ini menurutku cukup pesat. Aku datang ke sini dari masih sepi hingga sekarang yang hampir selalu ramai. Makanan yang paling aku suka di kedai ini adalah mie celor dan nasi gemuk daging.
Nasi gemuk daging, rasanya mirip nasi uduk.
Nasi gemuk merupakan makanan khas sarapan di Jambi yang terasa mirip seperti nasi uduk atau nasi lemak. Di kedai ini, pengunjung dapat memilih untuk membeli nasi gemuk daging atau ayam. Nasi gemuk daging memiliki isian berupa daging cincang manis, sedangkan nasi gemuk ayam berisi irisan ayam gurih. Biasanya, nasi disiram dengan sedikit kuah santan, bagiku rasanya mirip seperti kuah aren di gudeg. Lalu ditambahkan emping dan sambal yang pedas. Berhubung Jambi dekat dengan Sumatera Selatan, jadi sambalnya terkadang ada yang tercampur dengan cuko juga, enak.

Kuliner Malam di Bandung

Salah satu tujuan berlibur ke Bandung adalah menikmati cita rasa kulinernya yang beragam. Berikut adalah beberapa daftar kuliner malam yang selalu berusaha kami kunjungi saat berlibur di Bandung :

1. WARUNG CEU'MAR
Setiap ke Bandung, suamiku seringkali ngidam untuk makan malam di Ceu'Mar yang menurutnya makanan "mewah" waktu jaman kuliah dulu. Lokasi Ceu'Mar ini di pinggir jalan, tepatnya di Jl. ABC. Warung ini menawarkan banyak lauk pauk rumahan dengan rasa yang enak. Setiap lauk dijajakan di sebuah meja besar dan pengunjung bebas untuk mengambil sendiri lauk yang diinginkan. Makanan yang direkomendasikan oleh suamiku itu gulai daging, paru, dan babat.
Gulai daging + babat + bihun.
Gulai daging + paru + mendoan.
Baik gulai daging, paru, maupun babat, semuanya aku sukaa. Gulainya agak manis, parunya empuk, dan babatnya gurih. Tapi babat di sini cenderung basah, beda dengan babat goreng di Ma'Uneh yang kering. Aku juga suka karena mereka memasaknya pintar, jadi jeroannya ngga bau amis. Oiya, kami membayar sekitar Rp. 73.000 untuk makanan yang kami makan di atas dengan tambahan minuman dua es teh manis.

Tahun Baruan 2020

Momen pergantian tahun bukanlah suatu momen yang spesial buatku. Sejak kecil, keluargaku jarang sekali merayakan tahun baru. Penyebab utamanya adalah kemampuan begadang keluargaku yang sangat rendah. Jadi daripada buang-buang energi, kami lebih memilih untuk tidur. Seingatku, kecuali ada undangan dari keluarga besar, pastilah kami sudah tidur sejak jam 9 malam.

Pergantian tahun 2019 ke 2020 ini mungkin menjadi satu momen yang paling spesial diantara tahun-tahun sebelumnya. Qadarullah, suamiku dirawat selama 6 hari 5 malam di Rumah Sakit karena DBD di penghujung tahun 2019. Jackpotnya, ternyata suamiku juga terkena tifus. Menurut dokternya, bakteri tifus pasif yang ada di tubuh suami karena tifus beberapa tahun yang lalu menjadi aktif kembali sebab sistem imun suami sedang melemah (akibat DBD). Jadi selain pusing, lemas, dan demam, ia juga sulit makan karena mual dari penyakit tifus.

Kebetulan, tanggal 31 Desember adalah hari ke-6 ia demam. Sedangkan, hari ke 5-7 adalah momen kritis dari perjalanan penyakit DBD dan tifus. Jadi malam itu, suami demamnya sangat tinggi sampai 40 derajat. Ia juga mual terus-terusan hingga beberapa kali muntah di malam hari. Jadilah kami begadang sampai pagi.

Kebetulan lain, RS tempat suamiku dirawat berlokasi di sekitar Tugu Keris Siginjai yang menjadi tempat warga Jambi merayakan tahun baru. Alhasil, semalaman itu kami mendengar suara kembang api dan keramaian dari luar jendela. Yaudah deh, tambah-tambah ngga bisa tidur lagi. Aku juga bisa melihat banyak kembang api dari jendela kamar ruang rawat inap. Jadi walau sedang ngga fit, kami ngga sengaja ikut merasakan keceriaan malam tahun baru 😄, mayan ada aura positif.

Saturday, 4 January 2020

Mengenang Budaya

Kemarin, aku dan suami berbagi cerita tentang budaya atau kebiasaan sosial di lingkungan kami kecil dulu. Budaya yang menurut kami baik tapi perlahan menghilang.

Teman-teman generasi 90an, ada yang ingat ngga kalau dulu hampir di setiap RT pasti ada kegiatan kerja bakti buat bersih-bersih lingkungan? Biasanya setiap Sabtu atau Minggu. Bapak, ibu, anak, semua keluar buat bersih-bersih. Ada yang nyapu halaman, jalanan, atau bersihin saluran air. Misal anak-anak lagi ngga di rumah dan ada kegiatan di sekolah kayak ekskul, mereka juga wajib kerja bakti buat bersihin kelas. Jadi, ada program untuk menanamkan budaya bersih sejak kecil, keren ya. Kegiatannya seru lagi, bisa sekalian beramah tamah sama tetangga dan teman-teman.

Seandainya program kerja bakti ini dijaga sampai sekarang, mungkin masyarakat kita bisa lebih peduli kebersihan ya.. ngga buang sampah sembarangan.. rajin bersihin selokan..  sehingga akhirnya bisa mengurangi risiko banjir, who knows?
Sumber : Gambarilus

Sunday, 22 December 2019

Kupat Tahu Enak di Bandung

Kupat tahu adalah makanan tradisional Indonesia yang banyak ditemukan di beberapa daerah, seperti Magelang dan Jawa Barat. Seperti namanya, makanan ini terdiri dari ketupat (rice cake) dan tahu yang disiram dengan bumbu kacang manis. Penyajian kupat tahu sendiri di setiap daerah sebenarnya cukup serupa. Meski begitu tetap terdapat beberapa perbedaan kecil seperti misalnya kupat tahu Magelang yang umumnya diberi isian berupa taburan kol dan mi. Sedangkan kupat tahu di daerah Jawa Barat, umumnya diberi isian tauge. Saat mengunjungi Kota Bandung, aku sempat mencicipi dua warung kupat tahu yang memiliki cita rasa berkualitas, yaitu :

1. KUPAT TAHU & LONTONG KARI CICENDO
Informasi tentang warung ini aku ketahui dari blog Bandung Diary. Jam operasional warung dimulai sejak pagi hari, yaitu pukul 06.00 pagi hingga 15.00 sore. Suasana warung di pagi hari cenderung lebih ramai dibandingkan siang hari karena banyak pengunjung yang menjadikan kupat tahu sebagai menu sarapan. Saat berkunjung ke sana, aku datang ke lokasi sekitar pukul 13.00 siang, jadi cenderung tidak terlalu ramai. Terdapat beberapa pembeli selain kami, tetapi tidak sampai antri. Warung ini terletak di dalam gang dengan lahan parkir yang cenderung kecil, kira-kira hanya cukup untuk 3 mobil pribadi.

Mengunjungi Farmhouse Susu Lembang, Bandung

Saat berlibur singkat ke Bandung di awal bulan ini, kami berkunjung ke Farmhouse Susu Lembang yang populer. Selama ini, kami belum pernah berlibur ke tempat ini karena selalu ramai di saat weekend. Apalagi, jalanan menuju ke Lembang di saat liburan hampir selalu penuh dan macet.  Jadi kami malas karena membayangkan lelahnya. Nah, berhubung kali ini kami datang di hari Senin (9/12/19), jadi kami sempatkan diri untuk mampir dan melihat suasana di dalam Farmhouse Susu Lembang.
Salah satu bangunan khas Belanda di Farmhouse Susu Lembang.

Mengunjungi Orchid Forest Cikole Lembang, Bandung

Pada Senin (9/12/19), aku dan suami berwisata ke Orchid Forest Cikole yang terletak di kawasan Lembang, Bandung. Kami menuju ke sana dengan menggunakan kendaraan pribadi. Mengingat tempat wisata ini terletak di daerah gunung perbukitan, jadi tentu saja kendaraan kami perlu menanjak cukup tinggi untuk sampai di lokasi. Lahan untuk parkir tersedia di dua tempat, yaitu di bagian bawah dekat gerbang tiket (pengunjung perlu berjalan kaki, naik ojek, atau omprengan lagi untuk ke lokasi) dan di atas yang berada tepat di dekat pintu masuk Orchid Forest.
Orchid Forest Cikole Lembang, Bandung.

Review : Menginap di Daun Residence Bandung

Pada awal bulan Desember, aku dan suami berlibur singkat ke Bandung selama 3 hari 2 malam. Kami menginap di Daun Residence, penginapan kecil yang berada di dekat Dago. Kami menginap di superior room dengan rate Rp. 401.625/malam. Kebetulan, kami mendapat diskon dari Tiket.com, jadi biaya yang perlu dibayar selama menginap 2 malam di sana yaitu Rp. 738.788.
Daun Residence Bandung, tampak depan.

Wednesday, 20 November 2019

Jalan-Jalan ke Palembang 3 Hari 2 Malam

Sebenarnya ini late post banget. Kira-kira Juni 2019 kemarin, aku sempat ajak ibuku jalan-jalan singkat ke Palembang. Kebetulan waktu itu aku emang rencana mau kembali ke Bayung Lencir setelah libur lebaran di Jakarta, jadi bisa mampir. Berhubung ibuku belum pernah sama sekali ke Palembang, apalagi jalan darat, jadi aku ajak jingok-jingok sebentar.

DAY 1
Kami berangkat pagi, sekitar pukul 05.30 dari Pelabuhan Merak dengan KMP Batu Mandi. Setelah beberapa kali naik kapal untuk menyeberang pulau, sebenarnya kapal yang paling aku suka itu Portlink 3. Tetapi karena waktu itu timingnya ngga pas dan telalu lama kalau harus nunggu Portlink, jadi kami naik kapal yang tersedia aja. Alhamdulillah kapalnya juga nyaman.

Bakauheni.

Saturday, 16 November 2019

Review : Menginap di Rajawali Homestay Palembang

Salah satu penginapan favoritku di Palembang adalah Rajawali Homestay. Selama ini, aku dan suami sudah beberapa kali menginap di sana dan tetap puas dengan pelayanannya. Penginapan ini tergolong masih fresh karena baru buka di awal tahun 2019. Jadi, interior yang ada juga masih terawat dengan baik. Harga menginap semalamnya pun bisa dibilang ekonomis, under 400.

Pada bulan Maret lalu, aku dapat harga Rp.198.000/night (sedang promo) untuk kamar dengan tipe standard double (termasuk breakfast). Sedangkan di bulan Juni lalu saat peak season lebaran, aku dapat harga Rp. 350.000/night untuk tipe yang sama (tanpa breakfast). Kalau di Traveloka hari ini (29/10), aku lihat harganya Rp 255.000/night untuk tipe standard double tanpa breakfast dan aku perhatikan, sepertinya sekarang memang sudah tidak ada opsi breakfast lagi di Rajawali Homestay.

Tampilan hotel dari depan.

Tuesday, 29 October 2019

Review : Kapal Portlink 3 dari Bakauheni

Pada waktu mudik yang lalu, aku dan suami berkesempatan untuk menyeberang pulau dengan KMP Portlink III. Sebenarnya kami tidak berencana untuk naik kapal tersebut, kebetulan saja di pagi itu kapal yang tersedia adalah Portlink III. Kami juga clueless seperti apa fasilitasnya, intinya, naik kapal yang jadwalnya paling cepat.

Ternyata, Portlink III adalah kapal ferry terbesar di Indonesia dan tergolong kelas eksekutif. Kami baru sadar setelah membeli tiket. Selanjutnya, kami sempatkan diri untuk lihat-lihat sebentar di Dermaga Bakauheni yang sekarang udah jadi bagus banget, suasanya mirip kayak mal-mal di ibu kota. Karena masih pagi, hampir semua toko belum buka. Hanya satu mini market aja yang waktu itu udah buka. Walau begitu, tetap aja senang dan bangga lihatnya, akhirnya bagus juga.

Dermaga Bakauheni.