Sunday, 13 October 2019

Ibu Rumah Tangga

Pembahasan tentang ibu rumah tangga dan ibu bekerja adalah isu yang sensitif.  Pada dasarnya, saya yakin bahwa setiap orang punya alasan tersendiri tentang profesi apapun yang mereka pilih. Apapun itu, setiap profesi memiliki hak, tanggung jawab, kemudahan, dan kesulitannya sendiri.

Dalam tulisan ini, saya tidak bermaksud sama sekali untuk melebih-lebihkan satu profesi dari profesi lainnya. Bukan, bukan begitu. Saya sendiri juga lelah dengan tulisan yang membanding-bandingkan tentang kemuliaan ibu. Bagi saya, semua ibu itu mulia, apalagi dengan semakin tingginya tuntutan untuk perempuan di masa kini. Walau sekarang ini saya menjadi ibu rumah tangga, tapi kalau di masa depan saya harus kembali bekerja, saya juga sama sekali tidak menentang. Keduanya sama-sama menyenangkan dan punya charm tersendiri bagi saya.

Pada kesempatan ini, saya hanya ingin menuliskan pemikiran saya tentang seorang ibu rumah tangga dari sudut pandang ibu rumah tangga. Walau hanya lewat tulisan, saya juga ingin memberi apresiasi kepada para ibu rumah tangga, khususnya ibu saya, mertua, dan teman-teman terdekat yang memilih untuk menjadi ibu rumah tangga. All of you are wonderful :)

Tuesday, 8 October 2019

Promil : Perasaan Saat Belum Berhasil IVF

Pernah ngga merasakan suatu emosi yang unik, aneh, dan sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata tetapi baru pertama kali dirasakan setelah dewasa?

Pengalaman seperti itu pertama kali aku rasakan di tahun 2012. Tepatnya saat bapakku meninggal dunia secara mendadak. Memori tentang kejadian tersebut hingga kini masih terkenang dengan baik di pikiranku. Saat itu, aku baru saja bangun tidur di pagi hari yang kupikir biasa saja, sama seperti hari-hari lainnya. Ternyata, kurang dari satu jam setelah aku terbangun, bapakku sudah dipanggil oleh yang Maha Kuasa. Selama 22 tahun hidup, saat itu aku baru tahu kalau ada emosi yang rasanya seperti itu. Emosi yang unik, aneh, dan sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata. "Oh, ternyata begini ya rasanya".

Baru-baru ini, ketika aku pikir aku sudah pernah merasakan setiap emosi yang ada di dunia. Ternyata, di tahun 2019, aku kembali merasakan emosi baru yang unik, aneh, dan sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata. Tetapi, bentuk emosi yang aku rasakan sekarang berbeda dengan yang pernah aku rasakan saat bapakku meninggal dulu.

Kalau dulu, rasanya seperti kehilangan sesuatu yang menopangku. Mungkin jika aku diibaratkan sebagai pohon, aku merasa seperti pohon yang kehilangan akarnya. Sedangkan kalau sekarang, jujur saja aku masih belum bisa mengekspresikan dengan baik seperti apa rasanya. Kata 'sedih' kurasa terlalu sederhana untuk menggambarkannya dan kata 'kecewa' aku pikir terlalu berlebihan untuk menggambarkannya. Satu yang pasti, perasaan yang aku rasakan merupakan suatu hal yang baru bagiku dan aku tidak merasa nyaman karenanya. Mungkin karena selama 29 tahun hidup, aku baru tahu ternyata ada bentuk perasaan seperti itu.

Wednesday, 2 October 2019

Refleksi Diri dan Resensi Buku : Catatan Hati Ibu

Sebelumnya, saya mau berterima kasih kepada teman saya, Nana, yang berbaik hati memberikan buku ini kepada saya. Buku ini ditulis oleh Ust. Poppy Yuditya, salah satu ustadzah yang menjadi pendidik dalam Akademi Keluarga;Parenting Nabawiyah yang pernah saya ikuti tahun lalu.

Buku 'Catatan Hati Ibu' merupakan kumpulan dari beberapa narasi, sajak dancerita pendek yang sarat makna. Isinya sangat menekankan tentang ketaatan isteri dan kemuliaan ibu. Cerita-cerita romantis dan indah tentang keluarga Rasulullah serta sahabat-sahabatnya pun banyak ditemukan dalam tulisan-tulisan yang ada di buku ini.

Catatan Hati Ibu.

Saturday, 28 September 2019

Kebaikan Ibu

Sekarang adalah H+7 setelah saya melakukan embryo transfer (ET). Ibu saya sangat membantu proses saya beristirahat di rumah. Beliau memasakkan saya banyak makanan sehat. Tadinya saya mau pakai jasa catering khusus IVF, tetapi Ibu saya menawarkan bantuannya, supaya lebih sehat dan bisa berhemat katanya. Alhamdulillah.

Impact Factor

Beberapa hari lalu setelah saya selesai beberes apartemen dan mandi pagi, saya beristirahat sejenak dengan 'selonjoran' di sofa. Rasanya nyaman sekali. Badan dingin, ruangan wangi, dan sofa empuk adalah kombinasi yang pas untuk melepas lelah bagi saya. Sembari 'selonjoran' tersebut, saya tiba-tiba kepikiran tentang impact factor. Setelah 10 bulan berhenti bekerja, saya mulai berpikir, impact factor apa ya yang mau saya kasih ke lingkungan sekitar? at least, ke keluarga dan teman-teman.

Selama mencerna tentang kebermanfaatan hidup, saya teringat tentang kebaikan salah satu teman saya yang sudah meninggal. Ia adalah teman semasa kuliah profesi saya. Pada dasarnya hubungan kami baik, namun tidak bisa dibilang dekat. Akrab tetapi tidak mendalam. Bagaimana ya? Kami sering mengobrol dan kerja bersama tetapi kami sangat jarang membahas hal-hal pribadi.

Sekitar tahun 2015, teman saya tersebut terkena penyakit kanker. Penyakitnya berkembang dengan cepat hingga pada tahun 2018, ia hanya bisa terbaring di tempat tidur. Waktu itu, setahu saya kankernya sudah metastase ke otak sehingga hampir semua inderanya tidak berfungsi lagi. Ia menjadi tidak bisa melihat maupun berjalan. Ia hanya bisa bicara dengan terbata-bata, bergerak seperlunya, dan mendengar dengan satu telinga. Satu telinga yang ia gunakan untuk mendengar pun sudah menggunakan alat bantu pendengaran.

Tuesday, 30 July 2019

Kenangan Menyenangkan :)

Papaku adalah penggiat olahraga. Seingatku, Papaku suka dan jago hampir di semua jenis olahraga populer kecuali berenang sama lari, hehe. Masa kecilku pun penuh dengan kenangan nemenin Papa olahraga atau "dipaksa" ikut olahraga. 

Kenapa aku bilang "dipaksa"? ya.. karena Papaku biasanya olahraga setiap Minggu pagi. Padahal, buat anak-anak di tahun 90an, Minggu pagi adalah "surga", mengingat banyaknya siaran kartun di televisi. Jadi kebayang lah ya, betapa sedihnya aku kehilangan banyak episode Doraemon dan Sailor Moon waktu itu.

Selain "dipaksa" olahraga, Mamaku juga sering nyuruh aku dan Dini nemenin Papa olahraga, sekadar jadi penonton. Klaimnya, Dina dan Dini bertugas jagain Papa olahraga supaya ngga selingkuh sama sekretaris (lugunya, aku dan Dini percaya lagi.. *bocah parno akibat kebanyakan nonton Noktah Merah Perkawinan ๐Ÿ˜†), yang belakangan baru aku tau ternyata itu alasan Mama aja supaya doi punya waktu me time setiap Minggu pagi (sebuah teknik parenting yang sangat visioner, saking visionernya sebaiknya tidak dicontoh).

Berdasarkan pengalaman-pengalaman "terpaksa" olahraga di masa kecil itu, aku jadi maleeeees banget kalau disuruh olahraga. Waktu remaja dulu, badanku juga sangat susah gemuk (ngga kayak sekarang  yang makan nasi sesendok aja naiknya sekilo๐Ÿ˜‘), jadi ya makin ngga "ngeh" sama esensinya olahraga.

Tuesday, 26 March 2019

Cerita Transmigrasi : Up Date Kabar

Sekarang ini aku udah tinggal di Bayung Lencir selama 3 bulan lebih. Alhamdulillah.. makin ngerasa nyaman tinggal di sini. Semoga aja ke depannya akan selalu menyenangkan ya, bahkan lebih menyenangkan dari sekarang, aamiin.

Apa up date nya sekarang?

Nah, pada perkembangannya, setelah 3 bulan tinggal di sini.. ternyata suamiku juga ngga selalu bisa tinggal di kontrakan full dari Senin - Minggu. Ada hari-hari di mana dia harus ngurusin kerjaan di site dan nginep di sana. Tapi ada juga hari-hari dimana dia bisa tinggal di Bayung Lencir lamaa banget dan ngga balik-balik ke site, semuanya tergantung sama tugas kantor. Jadi, aku perlu nyari-nyari banyak kegiatan sendiri supaya ngga jenuh.

Untuk kegiatanku sendiri di sini sehari-hari sangatlah bersifat rutin. Tiap pagi setelah bangun tidur, aku beresin tempat tidur, bukain jendela, kemudian nyiapin sarapan. Kalau suami lagi nginep di site, biasanya pagi-pagi aku jogging sama tetangga ke Pasar, baru abis itu nyiapin sarapan. Tapi kalau suami lagi di kontrakan, aku harus nyiapin sarapan dulu baru dianter ke Pasar sama dia.. dan seringkali, dia males jalan kaki jadi biasanya libur juga deh jogging nya ๐Ÿ˜…

Abis ke Pasar, biasanya aku langsung eksekusi masak untuk makan siang. Setelah masak makan siang, barulah aku nyapu dan ngepel bagian dalem rumah (kalau teras, perjanjiannya yang ngepel suami karena aku males kalau keluar harus pakai jilbab). Selanjutnya ishoma, ngobrol-ngobrol sama suami, terus tidur siang deh. Barulah pas waktu ashar, aku isi hari dengan kegiatan-kegiatan yang aku suka kayak nonton Kdrama, baca buku, gambar-gambar, mewarnai, baca berita, buka-buka Cookpad, nonton Youtube, atau main ke rumah tetangga seandainya lagi ada ajakan untuk main.

Selain itu, untuk mengisi kegiatan.. aku juga memutuskan untuk jadi freelance verbatimer (merekam hasil wawancara ke bentuk teks), itung-itung sekaligus bantu teman-teman. Tapi biasanya, aku ambil kerjaan hanya saat suami lagi nginep di site dan ngga mau terlalu ngoyo juga supaya ngga kecapean. Dari kerjaan ini.. Alhamdulillah aku bisa nambah-nambah uang saku buat jajan pempek, lumayan, hehe.

Thursday, 21 February 2019

Cerita Transmigrasi : Musim Hujan

Sejak awal pindah sampai sekarang, di Bayung Lencir lagi sering banget hujan, dan salah satu "tantangan" musim hujan di sini adalah binatang-binatang yang suka berteduh di teras ๐Ÿ˜„. Seperti yang aku ceritakan di postingan sebelumnya, di sekitar tempat tinggalku banyak binatang-binatang seperti ayam, bebek, dan kucing. Dan setiap hujan, ayam dan kucing biasanya mencari tempat teduh. Kalau duckduck sih strong ya, mereka malah senang kalau hujan karena bisa main-main di kubangan air.

Sebenarnya, aku ngga begitu masalah kalau ada binatang yang mau berteduh di teras.. karena kalau hanya bekas jejak kaki kucing dan bulu-bulu ayam, bersihinnya mudah. Tetapi yang jadi dilema adalah, ayam dan kucing itu terkadang suka pupi sembarangan di teras. Setiap liat ada pupi di teras pada pagi hari padahal kemarinnya baru aku pel, rasanya hati ini mencelos. Sedi aku tu..

Sediih ๐Ÿ˜ญ

Monday, 7 January 2019

Cerita Transmigrasi : Pengalaman Merantau

Dua ribu sembilan belas. Alhamdulillah, masih dikasih umur sama Allah sampai detik ini. Kenapa semakin tua rasanya waktu makin cepet berlalu ya? Ngga kerasa udah hampir 6 tahun aku membuat blog ini, rasanya masih baru kemarin aku mulai nulis..

Tahun 2019 aku awali dengan banyak hal baru. Seperti yang sudah pernah aku ceritakan di sini, sejak pertengahan Desember 2018, aku resmi pindah ke Bayung Lencir untuk mengakhiri long distance marriage yang selama ini aku dan suami lalui. Selain karena mau ngejalanin berumah tangga yang "seharusnya" sesuai anjuran dan bagaimana pada umumnya, pindah ke sini juga bertujuan untuk (semoga, insya Allah) bisa segera punya anak. Mohon doanya ya teman-teman..


Tempat tinggal kami :)

Monday, 31 December 2018

Kulineran : Surganya Pempek Murah di Pasar 26 Ilir Palembang

Setelah tinggal di Sumatera Selatan, aku jadi suka banget sama pempek! Beneran sesuka itu. Padahal dulu pas di Jakarta, aku ngga terlalu suka pempek karena menurutku aroma ikannya sangat kuat (aku ngga terlalu suka makanan beraroma kuat kayak duren, pete, daun bawang, dll). Sekarang malah sering kangen sama pempek dan rasa cuko, dikit-dikit tiap ke pasar ngecek tukang pempek ๐Ÿ˜„

Semingguan yang lalu aku pergi ke Palembang, kota pusat pempek di Indonesia. Di sana, aku sempat berkunjung ke Pasar 26 Ilir. Dalam pasar ini terdapat banyak penjual pempek dengan harga merakyat tapi rasa boleh diadu. Suasananya seperti gang yang di sebelah kanan atau kiri berjajar kios-kios pempek.

Pasar 26 Ilir Palembang tempat banyak kios yang menjual pempek
Dikenal sebagai sentral kampung pempek.

Cerita Transmigrasi : Road Trip dan Mencoba Kuliner Sumatera (Lampung - Palembang)

Hai teman-teman, sejak pertengahan Desember lalu, aku resmi pindah ke Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Lokasi tempat tinggalku ini dekat dengan Jambi, kurang lebih 1,5 - 2 jam perjalanan dengan menggunakan mobil. Kalau dari Palembang, kurang lebih 5-6 jam perjalanan ke arah utara.

Sejak dulu, aku dan suami memang sudah kepingin banget untuk liburan menggunakan mobil pribadi keliling Sumatera, tetapi sayangnya, belum ada waktu yang memadai. Kebetulan bulan ini ada tujuan untuk transmigrasi, jadi kami optimalkan saja momen ini untuk sekalian jalan-jalan di sekitar Sumatera, ceritanya road trip gitu.

Dalam perjalanan ini, kami bertujuan untuk singgah di Lampung dan Palembang sebelum menuju ke Bayung Lencir. Perjalanan dimulai pukul 05.00 pagi dari Cibubur ke Pelabuhan Merak untuk naik kapal ferry. Waktu itu kami berangkat di hari Senin, 17 Desember 2018.
Gerbang Tol Merak

Wednesday, 26 December 2018

Membatasi Pemakaian Instagram supaya (Semoga) Lebih Bermanfaat

Sejak akhir November, aku memutuskan untuk benar-benar membatasi penggunaan instagram. Sebenarnya udah sejak lama aku berpikir untuk menutup akun instagram. Tetapi karena masih ada urusan pekerjaan seperti misalnya follow akun komunitas, up date info untuk dijadiin tugas mahasiswa, melihat perkembangan anak muda zaman kini supaya tetap nyambung sama mahasiswa atau klien remaja, dll jadinya aku nunda-nunda untuk nutup akun instagram.

Sampai akhirnya, sekitar pertengahan November, aku berhenti dari semua pekerjaan (sebenarnya, aku sudah resign sejak September, tapi aku baru benar-benar berhenti ngasong pada masa itu) dan kebanyakan waktu aku habiskan untuk bebenah pindahan atau istirahat seharian di rumah aja. Nah, di masa-masa banyak waktu luang ini, entah kenapa, aku merasa waktu luangku seringkali terbuang sia-sia hanya karena main instagram. Tanpa aku sadar, dalam sehari aku bisa main instagram sampai 2 jam. Padahal, biasanya aku aktif di instagram sekitar 30-45 menit perhari dan paling sering aku pakai hanya untuk nontonin ig story teman-teman atau awkarin waktu aku lagi makan (sebagai pengganti TV, lebih seru aja rasanya daripada TV, ada yang begitu juga ngga?๐Ÿ˜ƒ).

Setelah menyadari durasi penggunaan instagram, aku merasa sayang sama waktu. Aku pikir, 2 jam itu kalau aku pakai baca buku, aku bisa nambah ilmu baru. Kalau aku pakai buat ngaji, bisa beberapa 'ain. Kalau aku pakai tidur, bisa meremajakan kulit. Kalau aku pakai olahraga, bisa sehat. Rasanya jadi sayang sama waktunya. Dan pada masa itu, qadarullah, aku teringat tentang artikel yang pernah aku baca.